Header Ads Widget

REVITALISASI TARI PESISIRAN MELALUI INSTITUSI SEKOLAH

 REVITALISASI TARI PESISIRAN MELALUI INSTITUSI SEKOLAH





Probelematika terdesaknya tari etnik semakin terasa sejak tahun 1980-an, yang dibarengi menguatnya inovatif atass nama “kreativitas”; ditandai munculnya “Tari Kreasi Baru”. Waktu itu mulai menjamurnya karya-karya Bagong Kussudiardjo dari Yogyakarta.


Karya-karya tari kreasi baru menempati ruang publik di kota-kota besar di Jawa; Surabaya, Jogja, Solo, Bandung, Jakarta. Kota-kota yang bergerak ke arah metrolopis, sungguhpun kota tersebut belum benar-benar mengadopsi sifat konsumtif, tetapi masih berproses mendaur ulang masyarakat priyayi menjadi etlite baru. Sementara itu di daerah pesisiran, seperti Probolinggo dan Pasuruan serta kota lain masih menikmati dinamaka kehidupan tradisional sebagai masyarakat nelayan atau pedagang.

Di tahun 70-an hingga pertengahan 1980-an di Jawa Timur mulai menggulirkan forum kompetitif penyajian tari daerah. Hasilnya cukup membanggakan, yaitu bermunculan karya-karya baru hasil kreativitas seniman etnik di berbagai daerah di Jawa Timur. Waktu itu seniman akademik kurang lebih 10 %, tetapi 20 tahun berukutnya seniman akademik meningkat hingga 80%. Peningkatan ini menunjukan adanya alih tangan dalam proses kreatif tari etnik. Berdasarkan fenomena tersebut diperkirakan, 20 -30 tahun mendatang, semua pemikiran, sikap, dan tindakan kreatif seni tari etnik di tentukan oleh masyarakat seni akademik. Kondisi semacam ini telah dialami oleh cabang seni rupa, sehingga karya etnik menjadi sangat langka. Bahkan cendrung tidak dimasukan dalam ranah percaturan karya seni murni, tetapi didesak ke arah seni trapan (keriya). Bidang seni tari mulai tampak adanya pemilahan antara ekspresi tari kreatif yang bernuansa etnik sebagai materi kompetifi dalam frim karya tari daerah. Karya-karya tersebut merupakan embio tari terapan yang akan mengisi ruang seni tari wisata.

Ternyata pemikiran strategi menguatkan gema kreatif masyarakat seniman tari yang ditumbuhkan oleh lembaga pendidikan, artinya mereka yang belajar tari melalui sekolah masih belum mewacana. Hal ini dibutuhkan sebuah pemahaman bersama, bahwa perkembangan seni tari pada masa yang akan datang sudah tidak lagi dilakukan anak-anak nelayan yang menari ketika terang bulan, atau anak-anak lengger yang menari di malam hari bersama komunitasnya. Tetapi munculnya penari-penari yang menempatkan diri sebagai ”artis”. Tampil pada perpisahan sekolah, acara-acara seremonial pemerintah, atau sebagai duta seni. Habitat baru ini membutuhkan sebuah ”kebijakan” dan ”kesadaran” para pengambil keputusan, bahwa institusi sekolah benar-benar menjadi tempat penguatan tari etnik. Termasuk tari etnik yang berada di lingkungan masyarakat pesisir, sebab budaya pesisir sudah lama kehilangan ekspresi sebagai masyarakat penari.

Robby Hidajat

Kaprodi Pendidikan Seni Tari

Jurusan Seni dan Desain

Fak. Sastra UM

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul: Pendidikan Tari

Ditulis oleh Robby Hidajat

Posting Komentar

0 Komentar